Meredupnya Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak hanya dibaca sebagai penurunan jumlah pengunjung, tetapi juga sebagai cerminan perubahan struktur ekonomi perkotaan dan pergeseran ruang kreatif di Jakarta Selatan. Pasar Santa yang sempat menjadi ikon ruang kreatif anak muda pada pertengahan 2010-an itu kini menghadapi fase yang berbeda. Keramaian yang dulu identik dengan komunitas kopi, musik, dan kreator independen perlahan tergantikan oleh suasana yang lebih tenang dan sporadis.
Di tengah perubahan itu, peneliti ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, melihat bahwa Pasar Santa tidak sekadar kehilangan pengunjung, tetapi kehilangan posisi uniknya dalam peta ruang urban Jakarta. Ia menilai masa kejayaan Pasar Santa terjadi ketika ruang tersebut mampu menjadi pembeda dari pusat konsumsi lain di Jakarta Selatan. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama ketika dinamika ekonomi dan sosial berubah cepat.
“Pasar Santa mencapai puncaknya sekitar 2014 ketika komunitas kopi, vinyl, buku, dan pelaku usaha kreatif masuk dan mengubah ruang pasar menjadi tempat nongkrong sekaligus ruang komunitas,” kata Adrian. Namun, menurut dia, keberhasilan tersebut justru menjadi awal dari tekanan baru yang kemudian muncul di ruang tersebut. Ketika popularitas meningkat, harga sewa ikut terdorong naik. Kondisi ini membuat banyak tenant kecil yang sebelumnya menjadi bagian dari ekosistem kreatif mulai kesulitan bertahan.
Selain tekanan biaya, Adrian menyoroti bahwa Pasar Santa juga menghadapi persoalan yang lebih struktural, yakni perubahan daya beli masyarakat kelas menengah. Ia menjelaskan bahwa kelompok kelas menengah memiliki peran besar dalam menopang ruang konsumsi seperti Pasar Santa. “Data BPS menunjukkan bahwa kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk dan menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat,” ujar dia.
Namun, ia menambahkan bahwa tekanan terhadap kelompok ini juga semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir. “IMF mencatat pangsa kelas menengah di Indonesia menurun sejak 2019. Artinya, tekanan terhadap konsumsi riil itu memang terjadi,” kata Adrian. Menurut Adrian, perubahan perilaku konsumsi masyarakat kini tidak lagi hanya soal membeli barang atau datang ke suatu tempat, tetapi soal efisiensi pengalaman.
Masyarakat, kata dia, kini cenderung memilih ruang yang menawarkan banyak fungsi dalam satu waktu kunjungan. Lihat Foto Lorong pasar Santa tampak lengang dengan deretan kios yang masih tertutup rapat oleh rolling door di tengah tumpukan barang dagangan yang belum tertata, “Masyarakat masih belanja dan nongkrong, tetapi menjadi lebih selektif, lebih sensitif terhadap value for money,” tutur dia.
Ia menilai pergeseran ini membuat ruang seperti Pasar Santa semakin sulit bersaing dengan kawasan yang lebih terintegrasi. Blok M, misalnya, disebut sebagai contoh kawasan yang mampu memanfaatkan konsolidasi ruang secara lebih efektif. Adrian menjelaskan bahwa Blok M kini tidak lagi berdiri sebagai satu titik tunggal, melainkan sebuah ekosistem kawasan.
Di dalamnya terdapat berbagai simpul aktivitas mulai dari M Bloc Space, Blok M Hub, Blok M Plaza, hingga Taman Literasi yang semuanya saling terhubung secara spasial dan fungsional. “Ini yang disebut ekonomi aglomerasi. Semakin banyak pelaku usaha berkumpul dalam satu kawasan, semakin besar efisiensi dan daya tariknya,” kata Adrian. Menurut dia, kondisi ini menciptakan efek berantai yang memperkuat arus pengunjung dan memperpanjang durasi kunjungan.
Adrian juga menyoroti bahwa keberhasilan Blok M tidak hanya ditentukan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh integrasi kebijakan dan infrastruktur publik. “Revitalisasi Blok M Hub, pengembangan Taman Literasi, hingga konektivitas transportasi membuat kawasan ini lebih mudah diakses,” ujar dia. Ia menilai kombinasi antara sektor publik dan swasta menjadi faktor penting dalam membangun ruang kota yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, Pasar Santa dinilai tidak memiliki dukungan ekosistem yang setara.
Menurut Adrian, salah satu masalah utama Pasar Santa adalah hilangnya diferensiasi ruang. Ketika ruang kreatif lain mulai bermunculan dengan konsep yang lebih terkurasi dan terintegrasi, Pasar Santa kehilangan keunikan yang dulu membuatnya menonjol. “Ketika sebuah ruang tidak lagi punya keunggulan diferensial, maka ia akan sulit mempertahankan posisi sebagai destinasi,” kata Adrian. Ia menambahkan bahwa dalam konteks kota modern, daya saing ruang tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga pengalaman yang ditawarkan.
Adrian juga melihat adanya pergeseran struktur konsumsi anak muda yang semakin mempercepat perubahan tersebut. Generasi muda saat ini, menurut dia, tidak lagi mencari ruang yang hanya sekadar tempat berkumpul, tetapi menawarkan identitas dan pengalaman sosial yang jelas. Hal ini membuat ruang yang tidak melakukan pembaruan konsep menjadi mudah ditinggalkan.
Dalam pandangannya, Pasar Santa menjadi contoh bagaimana ruang kreatif yang tumbuh secara organik bisa kehilangan relevansi ketika tidak mampu beradaptasi. Ia menyebut bahwa banyak tenant awal yang menjadi “pionir” justru keluar ketika biaya operasional meningkat dan trafik pengunjung menurun. “Ketika pionir keluar, yang hilang bukan hanya tenant, tapi juga magnet utama ruang tersebut,” ucap Adrian.
Adrian menegaskan bahwa fenomena Pasar Santa tidak bisa dilihat secara tunggal sebagai kegagalan ruang, melainkan sebagai bagian dari siklus perubahan kota. Ia menyebut bahwa ruang urban selalu mengalami fase naik, stabil, dan kemudian bergeser. “Ini bukan semata-mata soal sepi atau ramai, tetapi tentang bagaimana ruang beradaptasi terhadap perubahan ekonomi dan sosial,” katanya. Ia menambahkan bahwa dalam konteks Jakarta Selatan, terjadi konsolidasi aktivitas ekonomi dan budaya ke titik-titik tertentu seperti Blok M.
Proses ini, menurut dia, merupakan bentuk natural dari efisiensi ruang kota modern. “Yang terjadi sekarang adalah konsentrasi spasial aktivitas ekonomi dan budaya anak muda ke satu kawasan yang lebih terintegrasi,” ujar dia. Meski demikian, Adrian tidak menutup kemungkinan bahwa Pasar Santa masih memiliki potensi untuk beradaptasi. Namun, ia menekankan bahwa diperlukan pembaruan konsep yang signifikan, bukan sekadar mempertahankan pola lama. Bertahan di Tengah Turunnya Pengunjung Dennis (34) sudah berjualan makanan rumahan di lantai tiga Pasar Santa sejak 2018. Ia menjadi salah satu pedagang yang merasakan langsung masa ketika lantai atas pasar ini masih ramai oleh anak muda Jakarta Selatan yang datang untuk makan, nongkrong, dan berpindah dari satu tenant ke tenant lain. “Kalau dulu sebelum 2020 itu masih enak. Sehari bisa dapat Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta kalau weekend. Hari biasa masih di kisaran Rp 800.000 sampai Rp 1,2 juta,” kata Dennis.
Ia menyebut masa itu sebagai periode ketika Pasar Santa masih memiliki arus pengunjung yang stabil dan berkelanjutan. Namun, menurut Dennis, situasi mulai berubah setelah pandemi dan tidak kembali seperti sebelumnya. Ia menilai penurunan paling terasa bukan hanya pada jumlah orang yang datang, tetapi juga cara mereka menggunakan ruang yang kini lebih singkat. “Sekarang sehari paling bagus itu Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Kadang kalau lagi sepi banget bisa cuma Rp 150.000 sampai Rp 200.000,” ujar dia. Ia menyebut penurunan itu membuat banyak pelaku usaha kecil harus menyesuaikan diri secara ketat. Dennis menilai perubahan pola nongkrong anak muda menjadi salah satu penyebab utama. Ia melihat kini banyak pilihan coffee shop di luar yang lebih nyaman dan mudah dijangkau tanpa harus masuk ke dalam pasar.
Sementara itu, Fathan (31) membuka kedai kopi di Pasar Santa sejak 2016, ketika tempat ini berada di puncak popularitas sebagai ruang kreatif anak muda Jakarta Selatan. Ia menyebut masa itu sebagai periode paling hidup, di mana Pasar Santa menjadi salah satu titik kumpul utama komunitas kreatif. “Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event,” kata Fathan saat ditemui di kedainya. Menurut dia, saat itu Pasar Santa bukan hanya tempat jual beli, tetapi ruang sosial yang aktif dan saling terhubung.
Namun kini, ia merasakan perubahan yang cukup signifikan. Penurunan tidak hanya terjadi pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada durasi kunjungan yang semakin singkat. “Sekarang rata-rata di Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujar dia. Ia menyebut perubahan ritme ini membuat banyak pelaku usaha harus bertahan dengan kondisi yang lebih tidak pasti. Fathan menilai salah satu perubahan paling penting adalah hilangnya kurasi tenant yang dulu membentuk identitas Pasar Santa. Ia mengatakan bahwa dulu setiap tenant memiliki karakter yang saling melengkapi. “Dulu itu benar-benar dikurasi. Kopi, vinyl, thrift, zine. Sekarang campur, jadi orang bingung ini tempat apa,” kata Fathan.
Ia juga melihat pergeseran besar dalam cara anak muda memilih tempat nongkrong. Menurut dia, media sosial membuat tren berpindah dengan sangat cepat. Meski begitu, Fathan masih melihat potensi Pasar Santa jika ada pembaruan konsep yang lebih serius dan terarah. Ia menilai lokasi Pasar Santa masih strategis di Jakarta Selatan. “Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi,” ucap dia. Lebih ke Nostalgia, Bukan Destinasi Utama Hafiz (25), seorang pekerja kreatif, datang ke Pasar Santa pada akhir pekan setelah cukup lama tidak berkunjung. Ia mengaku dulu cukup sering datang saat masih kuliah, ketika Pasar Santa menjadi salah satu titik kumpul anak muda di Jakarta Selatan. “Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama,” kata dia.
Ia menyebut kunjungan kali ini lebih banyak dipicu rasa penasaran dan nostalgia terhadap suasana Pasar Santa yang dulu ramai. secara konsep Pasar Santa masih memiliki elemen yang sama seperti masa puncaknya, di antaranya kopi, vinyl, hingga thrift shop yang dulu menjadi daya tarik utama. “Kalau isi sebenarnya masih ada ya. Tapi rasanya sekarang beda,” ujarnya. Ia menilai perubahan paling terasa adalah berkurangnya energi sosial yang dulu membuat tempat ini terasa hidup. Hafiz membandingkan Pasar Santa dengan kawasan lain seperti Blok M yang kini kembali ramai.
Menurut Hafiz, Blok M menawarkan ruang yang lebih terbuka dan mudah untuk berinteraksi. “Di Blok M itu kan banyak ruang terbuka, jadi lebih hidup. Orang bisa lihat orang lain juga,”kata Hafiz. Ia menilai hal itu membuat pengalaman nongkrong menjadi lebih lama dan dinamis. Ia menyimpulkan bahwa Pasar Santa kini lebih terasa sebagai tempat singgah ketimbang destinasi utama. Kehilangan Daya Tarik Sosial Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai fenomena meredupnya Pasar Santa merupakan bagian dari perubahan sosial dalam ruang kota Jakarta. Ia menyebut Pasar Santa sebagai contoh ruang kreatif yang mengalami siklus naik dan turun secara alami. “Pasar Santa dulu dikenal sebagai ruang berkumpul anak muda dan ruang ekspresi kreatif. Tapi sekarang mengalami pergeseran dinamika sosial dan ekonomi,” kata Rakhmat saat dihubungi, Selasa.
Ia melihat perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari evolusi kebutuhan masyarakat perkotaan. Rakhmat menjelaskan bahwa pada awal kemunculannya, Pasar Santa berhasil membangun komunitas yang kuat antara pedagang dan pengunjung. Interaksi sosial menjadi kekuatan utama yang membuat ruang tersebut hidup. “Awalnya ada kedekatan antara komunitas dan ruang. Itu yang membuat Pasar Santa hidup sebagai ruang kreatif,” ujar dia. Namun, ia menilai kekuatan itu tidak bertahan ketika tren sosial berubah. Menurut Rakhmat, salah satu faktor utama adalah perubahan kebutuhan anak muda yang sangat cepat. Generasi baru tidak lagi hanya mencari ruang alternatif, tetapi ruang yang lebih terintegrasi dan nyaman. “Anak muda sekarang lebih tertarik pada tempat yang lebih mudah diakses, lebih lengkap, dan lebih sesuai dengan kebutuhan sosial mereka,” kata Rakhmat.
Rakhmat menilai pergeseran ini membuat ruang seperti Pasar Santa kehilangan relevansi. Ia juga menyoroti faktor ukuran dan keterbatasan ruang fisik. Menurut dia, ruang yang terbatas cenderung tidak mampu menampung dinamika sosial yang lebih luas. “Ruang yang lebih besar seperti Blok M menawarkan pengalaman sosial yang lebih kaya dan beragam,” ujar dia. Ia menambahkan bahwa integrasi ruang menjadi kunci dalam membangun daya tarik kota modern. Selain itu, Rakhmat menilai peran media sosial juga sangat menentukan hidup-matinya sebuah ruang kota. Momentum viral dapat mempercepat pertumbuhan sebuah kawasan. Baca juga: Alirannya Diduga Jadi Mal Bintaro Xchange, Kondisi Kali Ciputat Menghitam dan Tak Mengalir “Blok M mendapatkan efek jaringan yang kuat dari viralitas dan media sosial. Pasar Santa tidak mendapat exposure yang sama,” tutur Rakhmat. Ia menutup dengan menekankan bahwa keberlanjutan ruang kreatif sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan sosial. “Jika tidak, ia akan ditinggalkan,” ucap Rakhmat.
Artikel sudah diterbitkan di Kompas.com