GREAT Institute menyambut baik terpilihnya salah satu pimpinan lembaga tersebut, Moh Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dalam reshufle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, Senin (27/4) sore.
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan, mengemukakan bahwa masuknya Jumhur Hidayat dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto, bukan saja merepresantikan kaum buruh, tetapi juga aktivis yang konsisten berada di jalur perjuangan.
“Ini adalah perjuangan panjang dari para aktivis, keluar penjara masuk penjara keluar penjara masuk penjara hingga menjadi menteri,” kata Dr. Syahganda saat silaturahmi GREAT Institute dengan Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, di Jakarta, Senin (27/4) malam.
Dr. Syahganda mengaku malam ini sebenarnya dirinya galau karena perjuangan buruh dapatnya Menteri Lingkungan Hidup. Menurut Syahganda, Jumhur akan bertarung lawan oligarki yang merusak lingkungan. “Ini bukan soal jabatan, tetapi sebuah perang baru,” tegas Dr. Syahganda.
Karena melawan oligarki, lanjut Dr. Syahganda, Presiden Prabowo memilih representasi buruh. Jumhur adalah avant-garde melawan oligarki. Dr. Syahganda meminta para aktivis yang hadir dalam silaturahmi itu terus mendukung Jumhur dalam melaksanakan tugasnya sebagai Menteri LH.
Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat sendiri mengaku tugasnya sangat berat karena menegakkan enviromental ethics di tengah arus kebutuhan investasi.
“Ini tidak seperti kementerian lain yang fokus pada pembangunan fisik dan lebih mudah diterima masyarakat. Tugas kami adalah menjaga etika dari dampak pembangunan itu sendiri,” ujar Jumhur.
Sementara dirinya sebagai Menteri LH berusaha menegakkan ethics yang diakibatkan oleh pembangunan itu sendiri. Namun, Jumhur mengaku siap menghadapi tantangan tersebut sebagaimana yang dilakukannya sebagai aktivis selama ini. Dia berharap dukungan dari sesama aktivis, para buruh dan seluruh masyarakat dalam menegakkan enviromentah ethics itu.
Pertemuan silaturahmi itu menjadi ajang berkumpulnya berbagai tokoh penting, mulai dari pentolan aktivis Malari Hariman Siregar hingga pengamat politik Rocky Gerung. Nama-nama lain seperti Hilmi Rahman Ibrahim, Delphredo, Sunarti, Ardianto, Daeng Wahidin, serta tokoh populer Poppy Dharsono dan Ahmad Yani juga terlihat hadir memberikan dukungan.