Indonesia Tidak Sedang Runtuh, Indonesia Sedang Diuji

Oleh: Ir. Abdullah Rasyid

Share
Share

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dan Reformasi, tanggal 20 Mei selalu mengingatkan kita bahwa bangsa ini lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari tekanan zaman.

Kebangkitan Nasional tahun 1908 muncul ketika rakyat bumiputra sadar bahwa penjajahan tidak bisa dilawan dengan ketakutan dan keterpecahan. Dari ruang-ruang kecil STOVIA, lahirlah keberanian berpikir sebagai bangsa. Dari Boedi Oetomo, tumbuh kesadaran bahwa Indonesia hanya bisa berdiri apabila rakyatnya percaya pada masa depannya sendiri.

Puluhan tahun kemudian, Reformasi 1998 juga lahir dari ujian besar. Krisis ekonomi menghantam, rupiah runtuh, perbankan kolaps, inflasi melonjak, demonstrasi membesar, dan negara berada di titik paling genting dalam sejarah modernnya.

Saya mengalami langsung suasana itu. Ketika harga-harga melambung liar, kepercayaan publik runtuh, dan ketidakpastian terasa di setiap sudut kehidupan. Indonesia saat itu bukan hanya menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis legitimasi dan krisis arah kebangsaan.

Karena itu, menyamakan kondisi Indonesia hari ini dengan 1998 adalah penyederhanaan yang berlebihan.

Benar, dunia sedang tidak baik-baik saja. Dolar menguat. Suku bunga The Fed tinggi. Konflik geopolitik belum selesai. Perdagangan global melambat. Hampir seluruh negara berkembang menghadapi tekanan yang sama. Tetapi Indonesia hari ini memiliki fondasi yang jauh berbeda dibanding tiga dekade lalu.

Cadangan devisa Indonesia per April 2026 mencapai sekitar USD 146,2 miliar. Inflasi relatif terkendali di kisaran 2,42 persen. Pertumbuhan ekonomi masih bergerak sekitar 5 persen. Sistem perbankan lebih kuat, pengawasan fiskal lebih disiplin, dan konsumsi domestik tetap menjadi bantalan utama ekonomi nasional.

Ini bukan situasi tanpa masalah. Namun ini juga bukan tanda negara sedang runtuh.

Yang sedang diuji hari ini sesungguhnya bukan hanya rupiah, melainkan mentalitas kebangsaan kita sendiri: apakah bangsa ini mudah panik setiap menghadapi tekanan global, atau justru mampu menjadikan krisis sebagai momentum naik kelas.

Dalam konteks itu, optimisme bukan sekadar retorika politik. Optimisme adalah bagian dari strategi negara.

Presiden Prabowo beberapa kali menekankan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang mudah takut terhadap gejolak global. Sikap percaya diri diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam pesimisme yang justru memperlemah ekonomi nasional. Dalam ekonomi modern, psikologi publik sering kali sama pentingnya dengan angka statistik. Kepanikan dapat menciptakan krisis yang sebenarnya bisa dihindari.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar Indonesia selalu lahir dari kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Bangsa ini terlalu besar untuk terus hidup dalam rasa takut. Kita memiliki sumber daya alam, bonus demografi, pasar domestik besar, serta posisi geopolitik yang semakin strategis di tengah pergeseran ekonomi dunia. Tantangan kita sekarang bukan sekadar menghadapi naik turunnya dolar, tetapi membangun kemandirian nasional yang sesungguhnya.

Mengurangi ketergantungan impor.
Memperkuat industri nasional.
Mendorong hilirisasi.
Mengembangkan transaksi mata uang lokal.
Dan memastikan kekayaan Indonesia memberi nilai tambah sebesar-besarnya bagi rakyatnya sendiri.

Kebangkitan nasional di abad ke-21 tidak lagi cukup dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajahan fisik. Kebangkitan hari ini adalah kemampuan bangsa berdiri tegak di tengah tekanan global tanpa kehilangan kepercayaan diri sebagai negara besar.

Karena bangsa besar bukan bangsa yang tidak pernah diuji.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu tetap tenang ketika dunia sedang berguncang.

Indonesia tidak sedang runtuh.
Indonesia sedang diuji untuk naik kelas.