Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dan Pekerjaan Rumah yang Masih Tersisa

Oleh: Prof.Perdana Wahyu Santosa

Share
Share

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026 layak diapresiasi sebagai perkembangan yang positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun. Secara tahunan, capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2025 sebesar 4,87 persen, triwulan I 2024 sebesar 5,11 persen, dan triwulan I 2023 sebesar 5,03 persen. Namun demikian, angka tersebut perlu dibaca secara komprehensif karena pada saat yang sama ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan dibandingkan triwulan IV 2025.

Dalam konteks Indonesia, kontraksi pada triwulan pertama bukanlah hal yang tidak biasa. Setelah dorongan aktivitas ekonomi pada akhir tahun, pertumbuhan ekonomi umumnya mengalami perlambatan secara kuartalan. Yang menjadi catatan positif adalah bahwa kontraksi kali ini lebih dangkal dibandingkan triwulan I 2025 yang mengalami kontraksi 0,98 persen dan relatif sejalan dengan pola triwulan I 2024 yang terkontraksi 0,83 persen. Karena itu, pertumbuhan 5,61 persen lebih tepat dipahami sebagai indikasi meningkatnya ketahanan ekonomi dibandingkan sebagai lonjakan pertumbuhan yang luar biasa.

Apabila ditelaah lebih jauh, data pertumbuhan menunjukkan sektor-sektor yang menjadi penggerak utama ekonomi. Dari sisi lapangan usaha, sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen secara tahunan. Kinerja tersebut didukung oleh percepatan belanja pemerintah, meningkatnya aktivitas jasa, dan membaiknya perputaran ekonomi. Hingga akhir Maret 2026, belanja negara tercatat tumbuh 31,4 persen secara tahunan, sementara penerimaan pajak meningkat 20,7 persen.

Dukungan juga datang dari sektor moneter. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,37 persen pada Februari 2026, dengan kredit investasi tumbuh 20,72 persen. Sementara itu, jumlah uang beredar luas meningkat 10 persen pada Januari 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama ditopang oleh kombinasi stimulus fiskal, pertumbuhan pembiayaan, dan aktivitas sektor jasa yang relatif kuat.

Kualitas Pertumbuhan Menjadi Tantangan Utama

Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil yang positif, kualitas pertumbuhan tetap menjadi perhatian penting. Pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen tidak dapat menjadi tumpuan utama sepanjang tahun. Bahkan secara kuartalan, komponen tersebut mengalami kontraksi sebesar 30,13 persen, yang menunjukkan kuatnya pengaruh pola anggaran dan faktor musiman terhadap pembentukan angka pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam satu triwulan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh persoalan ekonomi telah terselesaikan. Pertumbuhan yang sehat perlu semakin ditopang oleh investasi produktif, peningkatan efisiensi, dan produktivitas yang lebih tinggi, bukan hanya bergantung pada siklus belanja pemerintah atau faktor musiman. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa ruang untuk perbaikan masih sangat besar. Nilai undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.536,40 triliun atau sekitar 22,86 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Kondisi ini menunjukkan bahwa likuiditas masih cukup besar, namun tantangannya adalah meningkatkan kepercayaan dunia usaha agar lebih aktif melakukan investasi.

Fondasi Makroekonomi Tetap Terjaga

Di tengah berbagai tantangan, fondasi makroekonomi Indonesia masih relatif kuat. Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen. Cadangan devisa per akhir Februari 2026 mencapai USD151,9 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor. Inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen secara tahunan, sementara inflasi inti berada pada level 2,52 persen. Dari sisi fiskal, defisit APBN hingga akhir Maret 2026 masih berada di kisaran 0,93 persen terhadap PDB.

Kombinasi indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,61 persen tidak berdiri di atas fondasi yang rapuh. Indonesia masih memiliki ruang untuk mengubah momentum pertumbuhan jangka pendek menjadi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Tantangan utamanya bukan terletak pada ketersediaan modal ekonomi makro, melainkan pada konsistensi kebijakan dan kualitas pelaksanaannya.

Penutup

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen patut diapresiasi sebagai sinyal positif bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian global dan berbagai tantangan domestik. Namun, capaian tersebut sebaiknya tidak dipandang sebagai akhir dari pekerjaan. Pertumbuhan ekonomi perlu terus diarahkan agar tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga mampu mendorong investasi produktif, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas ekonomi secara berkelanjutan. Dengan demikian, kabar baik dari BPS menjadi awal yang menjanjikan, sementara pekerjaan besar untuk memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi masih harus terus dilakukan.

Sumber: Jernih.co – Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dan Pekerjaan Rumah