Aula Barat ITB, Bandung, 5 Maret 2026

Ringkasan Eksekutif
Peluncuran buku Menggugat Republik yang diselenggarakan oleh GREAT Institute pada 5 Maret 2026 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung menjadi ruang dialog publik yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, aktivis, serta pemikir publik untuk merefleksikan kembali arah pembangunan nasional di tengah perubahan lanskap ekonomi dan politik global. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan karya intelektual kepada masyarakat, tetapi juga sebagai forum pertukaran gagasan mengenai hubungan antara pembangunan ekonomi, dinamika demokrasi, dan masa depan republik Indonesia.
Diskusi yang berkembang dalam forum ini menyoroti pentingnya menjaga tradisi pemikiran kritis dalam kehidupan berbangsa, sekaligus mendorong lahirnya gagasan kebijakan yang mampu menjawab berbagai persoalan strategis nasional. Berbagai pandangan menekankan bahwa pembangunan nasional memerlukan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan gagasan besar menjadi langkah-langkah konkret, terutama dalam menjawab tantangan mendesak seperti ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kapasitas ekonomi nasional.
Dari perspektif pembangunan ekonomi, forum ini juga menegaskan urgensi transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Model pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam dinilai perlu beralih menuju pembangunan yang berbasis pada penguatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta pengembangan industri bernilai tambah tinggi. Dalam kerangka tersebut, penguatan ekonomi kerakyatan melalui modernisasi koperasi dipandang sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat basis ekonomi masyarakat sekaligus mendorong distribusi kesejahteraan yang lebih merata.
Secara keseluruhan, forum ini menunjukkan bahwa diskursus mengenai masa depan pembangunan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis kebijakan ekonomi, tetapi juga menyangkut dimensi ideologis mengenai bagaimana negara menjalankan mandat konstitusionalnya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Melalui dialog yang terbuka antara berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya perdebatan kebijakan publik sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan strategis dalam merumuskan arah pembangunan nasional yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
A. Latar Belakang
Perubahan lanskap ekonomi global dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa fondasi sistem ekonomi internasional tengah mengalami pergeseran yang signifikan. Krisis finansial global 2008, pandemi COVID-19, serta meningkatnya rivalitas geopolitik antarnegara telah mengubah pola interaksi ekonomi dunia yang sebelumnya relatif terintegrasi. Negara-negara besar mulai mendorong strategi reshoring, proteksionisme industri strategis, serta penguatan kapasitas domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global. Di saat yang sama, konflik geopolitik di berbagai kawasan juga turut memunculkan ketidakpastian baru terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk meningkatnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran, misalnya, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global yang berpotensi berdampak pada negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Dalam konteks tersebut, negara berkembang dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya dituntut untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, tetapi juga harus mampu merancang strategi transformasi ekonomi yang memungkinkan mereka naik kelas dalam struktur ekonomi global. Tantangan klasik seperti jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), ketergantungan terhadap komoditas primer, serta keterbatasan kapasitas industri domestik menjadi semakin relevan untuk dibahas dalam kerangka perubahan ekonomi dunia yang lebih luas.
Indonesia sendiri selama dua dekade terakhir relatif mampu menjaga stabilitas makroekonomi dengan tingkat pertumbuhan yang konsisten di kisaran lima persen. Stabilitas ini sering dipandang sebagai capaian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai krisis global. Namun demikian, stabilitas yang terjaga tersebut juga memunculkan pertanyaan strategis yang semakin menguat dalam diskursus kebijakan publik: apakah model pembangunan ekonomi yang berjalan saat ini cukup memadai untuk membawa Indonesia menuju lompatan pertumbuhan yang lebih tinggi. Tanpa transformasi struktural yang lebih dalam, pertumbuhan yang stabil justru berisiko menempatkan ekonomi nasional dalam situasi stagnasi jangka panjang. Oleh karena itu, perdebatan mengenai arah dan strategi pembangunan ekonomi Indonesia menjadi semakin penting dalam menentukan masa depan pembangunan nasional.
Dalam kerangka perdebatan tersebut, berbagai gagasan mengenai model pembangunan ekonomi Indonesia mulai berkembang dalam ruang publik. Akademisi, pembuat kebijakan, serta pemikir publik mencoba menawarkan perspektif yang berbeda mengenai bagaimana negara seharusnya merancang strategi pembangunan di tengah perubahan lanskap global. Salah satu gagasan yang belakangan mulai diperbincangkan adalah konsep Prabowonomics, yang berupaya menawarkan pendekatan pembangunan ekonomi yang menekankan penguatan kapasitas nasional, optimalisasi sumber daya domestik, serta peran negara dalam mendorong transformasi ekonomi.
Sebagai sebuah gagasan yang berkembang dalam ruang publik, Prabowonomics tidak dapat dipahami sebagai konsep yang sepenuhnya final. Ia justru menjadi bagian dari proses diskursus yang lebih luas mengenai arah pembangunan nasional. Dalam tradisi intelektual kebijakan publik, gagasan semacam ini sering kali berkembang melalui proses dialog, kritik, serta pengayaan perspektif dari berbagai kalangan. Dengan demikian, diskursus mengenai Prabowonomics pada dasarnya merupakan bagian dari upaya kolektif untuk merumuskan strategi pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih adaptif terhadap perubahan global.
Atas dasar itulah, peluncuran buku mengenai Prabowonomics diselenggarakan tidak sekadar sebagai kegiatan seremonial penerbitan karya intelektual. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai ruang dialog yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, serta pemikir publik dalam membahas berbagai perspektif mengenai arah pembangunan ekonomi Indonesia. Melalui forum diskusi yang terbuka dan konstruktif, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya pertukaran gagasan mengenai berbagai strategi yang dapat ditempuh untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, sekaligus merespons berbagai tantangan global yang terus berkembang.
Pada akhirnya, forum ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperluas diskursus publik mengenai masa depan ekonomi Indonesia. Dialog yang terbuka antara berbagai pemangku kepentingan menjadi elemen penting dalam membangun pemahaman bersama mengenai arah pembangunan nasional. Dalam konteks itulah, peluncuran buku ini diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan literasi intelektual, tetapi juga menjadi salah satu pemantik bagi berkembangnya perdebatan kebijakan yang lebih luas dan berkelanjutan mengenai strategi pembangunan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
B. Tujuan Kegiatan
Peluncuran buku Menggugat Republik yang disertai dengan seminar nasional ini bertujuan untuk memperkaya diskursus publik mengenai hubungan antara arah pembangunan ekonomi, dinamika demokrasi, dan masa depan republik Indonesia. Melalui forum dialog yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, serta pemikir publik, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran gagasan yang konstruktif dalam merespons berbagai tantangan ekonomi, politik, dan geopolitik yang dihadapi Indonesia saat ini.
Secara khusus, kegiatan ini memiliki beberapa tujuan utama sebagai berikut:
- Menghadirkan refleksi kritis terhadap dinamika pembangunan nasional melalui peluncuran buku Menggugat Republik, yang mengangkat berbagai pandangan mengenai arah kebijakan ekonomi, demokrasi, dan tata kelola negara di Indonesia.
- Mendorong berkembangnya diskursus publik yang lebih luas mengenai konsep Prabowonomics serta berbagai perspektif mengenai strategi pembangunan ekonomi Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global.
- Membangun ruang dialog antara akademisi, pembuat kebijakan, dan pemikir publik guna memperkaya pertukaran gagasan mengenai arah pembangunan nasional serta berbagai tantangan strategis yang dihadapi Indonesia ke depan.
C. Rangkaian Acara
| Hari & Tanggal | : | Kamis, 5 Maret 2026 |
| Waktu | : | 12.40 – 18.15 WIB |
| Tempat | : | Aula Barat ITB, Bandung |
| Format | : | Seminar |
D. Rundown dan Narasumber
| Waktu | Kegiatan |
| 15.40 – 15.45 | Pembukaan oleh MC dan menyanyikan lagu Indonesia Raya |
| 15.45 – 15.52 | Pengantar tema dan tata acara |
| 15.52 – 16.25 | Sambutan dan Remarks oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Penulis Buku)Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. (Rektor Institut Teknologi Bandung)Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. (Ketua Komisi X DPR RI)Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. (Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia)Presiden KM ITB |
| 16.25 – 17.35 | Dialog Nasional “Prabowonomics, Demokrasi dan Tantangan ke Depan” Moderator: Khalid Zabidi Opening Speech: Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H. (Wakil Ketua DPR RI) Pembicara: Moh Jumhur Hidayat (Ketua Umum KSPSI & Ketua Dewan Penasihat GREAT Institute)Rocky Gerung (Filsuf)Dr. H. Mukhamad Misbakhun, S.E., M.H. (Ketua Komisi XI DPR RI): Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si. (Menteri Koperasi Republik Indonesia) |
| 17.35 – 17.50 | Pidato Penutup oleh: Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. (Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia) |
| 17.50 – 18.15 | Ramah-tamah, Buka Bersama, Sholat Maghrib dan Penutupan. |
E. Resume dan Pokok Pembicaraan
Acara peluncuran buku bertajuk “Menggugat Republik” karya Dr. Syahganda Nainggolan menjadi forum diskusi yang mempertemukan berbagai tokoh dari kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan pemikir publik. Forum ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pengenalan karya intelektual kepada masyarakat, tetapi juga sebagai wadah refleksi mengenai dinamika kehidupan berbangsa serta arah pembangunan nasional di tengah berbagai perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global.
Dalam pemaparannya, Dr. Syahganda Nainggolan merefleksikan rekam jejak historis aktivisme mahasiswa serta transformasinya menuju tatanan pemikiran yang lebih strategis dalam kehidupan bernegara. Beliau mengemukakan pandangan bahwa Presiden Prabowo Subianto merupakan figur pemimpin negara yang memiliki pijakan ideologi kerakyatan dan nasionalisme yang kuat serta konsisten dalam perjalanan politiknya. Berlandaskan pandangan tersebut, beliau mendorong pemerintah untuk merumuskan langkah-langkah taktis jangka pendek (quick wins) guna menjawab berbagai persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat, seperti permasalahan ketahanan pangan dan keterbatasan lapangan kerja.

Meninjau dari perspektif akademis, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara menekankan pentingnya sinergi di antara kaum terpelajar untuk berkolaborasi dalam kerangka pembangunan nasional, alih-alih terjebak dalam polarisasi yang kontraproduktif. Mengingat Indonesia telah mencapai status negara berpendapatan menengah, beliau menyoroti urgensi reorientasi paradigma ekonomi nasional secara lebih komprehensif. Strategi pembangunan perlu bergeser dari model ekstraktif yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam mentah menuju pembangunan sumber daya manusia yang unggul serta penguasaan teknologi bernilai tambah tinggi. Transformasi tersebut menuntut konsistensi kebijakan jangka panjang, penghapusan mentalitas inferior (inlander), serta penguatan investasi pada institusi pendidikan dan sektor industri nasional guna menopang target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menuju visi Indonesia Emas.
Gagasan mengenai transformasi struktural tersebut kemudian dihubungkan dengan kerangka ekonomi pemerintahan saat ini yang dalam forum tersebut direpresentasikan sebagai Prabowonomics. Menteri Koperasi Republik Indonesia, Dr. Ferry Juliantono, menjelaskan bahwa pendekatan ekonomi tersebut pada hakikatnya berangkat dari upaya mengaktualisasikan amanat konstitusi, khususnya prinsip keadilan sosial yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dalam perspektif ini, pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan semata, tetapi juga harus memastikan distribusi kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat luas.
Salah satu manifestasi konkret dari pendekatan tersebut diwujudkan melalui akselerasi pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di tingkat akar rumput. Berdasarkan tinjauan lapangan Kementerian Koperasi, masih terdapat berbagai kesenjangan infrastruktur dasar di sejumlah wilayah pedesaan, mulai dari keterbatasan akses listrik hingga minimnya infrastruktur digital. Dalam konteks ini, koperasi desa diproyeksikan tidak hanya sebagai entitas ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen strategis negara dalam memperkuat basis ekonomi masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan di tingkat lokal.
Secara keseluruhan, diskusi dalam forum peluncuran buku ini memperlihatkan adanya kesadaran bersama mengenai pentingnya merumuskan kembali arah pembangunan nasional yang lebih berorientasi pada keadilan sosial, penguatan kapasitas nasional, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pertukaran gagasan yang berlangsung menunjukkan bahwa diskursus mengenai masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis kebijakan, tetapi juga menyentuh dimensi ideologis mengenai bagaimana negara menjalankan mandat konstitusionalnya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
F. Dokumentasi Kegiatan













