IDX Carbon di Ujung Tanduk: Ketika Harga Karbon Lebih Murah dari Sebotol Air Mineral

Oleh: Prof. Perdana Wahyu Sentosa

Share
Share

Pasar karbon Indonesia menghadapi tantangan besar. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap transisi menuju ekonomi rendah karbon, harga karbon yang diperdagangkan di Indonesia masih berada pada tingkat yang sangat rendah, yakni sekitar USD 2 hingga USD 4 per ton setara karbon dioksida (CO₂e). Nilai tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan harga sebotol air mineral di banyak tempat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pasar karbon nasional dalam mendorong pengurangan emisi dan investasi hijau.

Melalui pembentukan IDX Carbon, pemerintah dan Bursa Efek Indonesia berupaya menyediakan infrastruktur perdagangan karbon yang transparan dan terintegrasi sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca. Bursa karbon diharapkan menjadi instrumen ekonomi yang dapat memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk menurunkan emisi sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Namun, harga karbon yang masih sangat rendah menunjukkan bahwa mekanisme pasar belum mampu menciptakan sinyal ekonomi yang cukup kuat. Dalam teori ekonomi lingkungan, harga karbon seharusnya mencerminkan biaya sosial dari emisi karbon sehingga dapat mendorong perusahaan melakukan investasi pada teknologi yang lebih bersih dan efisien. Ketika harga karbon terlalu rendah, insentif untuk melakukan transformasi menuju proses produksi yang rendah emisi menjadi terbatas.

Kondisi tersebut juga menimbulkan tantangan bagi pengembangan proyek-proyek pengurangan emisi di Indonesia. Pengembang proyek membutuhkan harga karbon yang memadai agar investasi dalam konservasi, energi terbarukan, efisiensi energi, maupun kegiatan mitigasi lainnya dapat memberikan manfaat ekonomi yang layak. Harga yang terlalu rendah berpotensi mengurangi daya tarik investasi pada sektor-sektor tersebut.

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon. Komitmen nasional untuk menurunkan emisi telah dituangkan dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), dengan target penurunan emisi sebesar 31,89 persen secara mandiri dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Potensi sumber daya alam yang luas, termasuk sektor kehutanan dan energi, memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam pasar karbon global.

Karena itu, penguatan pasar karbon nasional tidak hanya memerlukan infrastruktur perdagangan yang baik, tetapi juga dukungan kebijakan yang mampu meningkatkan permintaan, memperkuat integritas pasar, serta menciptakan harga karbon yang lebih mencerminkan nilai ekonomi pengurangan emisi. Dengan demikian, pasar karbon dapat berfungsi sebagai instrumen yang efektif dalam mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.

Pada akhirnya, keberhasilan pasar karbon tidak hanya diukur dari jumlah transaksi yang terjadi, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan perubahan perilaku ekonomi dan mendorong investasi berkelanjutan. Tantangan terbesar IDX Carbon saat ini adalah memastikan bahwa harga karbon mampu memberikan sinyal yang cukup kuat untuk mendukung transformasi ekonomi menuju masa depan yang lebih hijau dan rendah emisi.

Sumber: Jernih.co – IDX Carbon di Ujung Tanduk: Harga Karbon Lebih Murah Daripada Sebotol Air Mineral