Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada 2026. Namun, sejumlah indikator mulai menunjukkan bahwa masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan, sehingga ketahanan konsumsi pada semester II perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
GREAT Institute mencatat konsumsi rumah tangga secara riil meningkat menjadi sekitar Rp1.887,7 triliun. Namun, setelah menguat selama momentum Ramadan dan Idulfitri, pertumbuhan penjualan ritel kembali melemah dan terkontraksi 3,9 persen secara tahunan pada Mei 2026. Indeks Keyakinan Konsumen juga menurun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni, meskipun masih berada dalam zona optimistis.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute Trisha Devita Indraswari menilai perubahan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara kemampuan masyarakat untuk membelanjakan pendapatan atau ability to spend dan kemauan untuk melakukan pengeluaran atau willingness to spend. Ketika ketidakpastian terhadap pendapatan dan pekerjaan meningkat, rumah tangga cenderung lebih berhati-hati, menunda belanja yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama sebagai precautionary saving.
Tekanan tersebut semakin terlihat pada pembelian aset bernilai besar. Penjualan rumah primer terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan masih terkontraksi 2,36 persen pada triwulan II. Pada saat yang sama, harga rumah masih tumbuh, dengan Indeks Harga Properti Residensial meningkat 0,61 persen pada triwulan I dan 0,69 persen pada triwulan II. Artinya, pelemahan pasar perumahan lebih terlihat melalui menurunnya transaksi dibandingkan penurunan harga.
Ketergantungan terhadap pembiayaan juga menjadi faktor penting karena sekitar 70,05 persen pembelian rumah menggunakan KPR. Pertumbuhan KPR/KPA telah berada pada level satu digit sejak Maret 2025 dan melambat menjadi sekitar 4,5 persen secara tahunan pada Juni 2026. Penjualan rumah komersial pada semester I 2026 juga turun dari 19.731 unit pada periode yang sama 2025 menjadi hanya 9.618 unit, atau sekitar 51 persen secara tahunan. Pembelian rumah melalui skema FLPP pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah juga mengalami penurunan.
Rangkaian indikator tersebut menunjukkan bahwa tekanan daya beli tidak hanya terlihat dari konsumsi harian. Kehati-hatian juga muncul dalam keputusan untuk membeli barang tahan lama dan mengambil komitmen keuangan berjangka panjang. Konsumsi kebutuhan dasar masih dapat dipertahankan, sementara pengeluaran sekunder dan pembelian yang membutuhkan pembiayaan cenderung lebih mudah ditunda.
Untuk menjaga konsumsi pada semester II, GREAT Institute menilai fokus kebijakan perlu diarahkan pada penguatan fundamental rumah tangga. Penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan terhadap prospek ekonomi menjadi faktor penting. Stimulus dapat membantu permintaan dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan konsumsi tetap bergantung pada pendapatan, kepastian pekerjaan, dan ketahanan keuangan rumah tangga.
Di sisi lain, tantangan kepercayaan juga muncul dalam investasi. GREAT Institute mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahun ini. Namun, peningkatan nilai investasi domestik perlu dilihat bersama posisi Indonesia dalam persaingan investasi di ASEAN.
Realisasi PMA dan PMDN meningkat hampir tiga kali lipat, dari Rp693 triliun pada 2017 menjadi Rp1.931 triliun pada 2025. Namun, pangsa Indonesia terhadap investasi yang masuk ke ASEAN turun dari 13,2 persen menjadi 8,8 persen pada periode yang sama, sementara pangsa ASEAN terhadap investasi global naik dari 8,8 persen menjadi 15 persen.
Menurut GREAT Institute, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan investasi tidak lagi hanya bertumpu pada cost advantage, tetapi semakin bergeser menuju ecosystem advantage. Investor mempertimbangkan kualitas ekosistem industri, infrastruktur, energi, tenaga kerja, akses pasar, serta kepastian regulasi. Karena itu, policy predictability menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya tarik investasi Indonesia.
Kepastian kebijakan menjadi perhatian karena sejumlah regulasi mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat, termasuk kebijakan Devisa Hasil Ekspor sumber daya alam dan prosedur sertifikasi lahan. GREAT Institute menilai persoalannya bukan bahwa regulasi tidak boleh berubah, tetapi perubahan perlu disusun secara komprehensif, koheren, dan konsisten agar risiko regulasi bagi pelaku usaha dapat ditekan.
Dengan demikian, tantangan ekonomi pada semester II tidak hanya berkaitan dengan menjaga angka konsumsi atau meningkatkan nominal investasi. Ketahanan rumah tangga membutuhkan pendapatan dan pekerjaan yang lebih kuat, sementara peningkatan investasi membutuhkan kepastian kebijakan dan kualitas ekosistem yang lebih baik. Kepercayaan menjadi penghubung keduanya: rumah tangga membutuhkan keyakinan sebelum mengambil komitmen finansial, sementara dunia usaha membutuhkan kepastian sebelum meningkatkan investasi.
Sumber Berita:
- Investor Daily – Konsumsi Semester II Terancam Melambat
- Bisnis.com – GREAT Institute: Konsumsi Masih Tumbuh, tapi Rumah Tangga Mulai Tahan Belanja
- Industry.co.id – GREAT Institute: Meski Investasi Naik, Indonesia Butuh Kepastian Kebijakan
- ANTARA – Ekonom Nilai Penguatan Fundamental Rumah Tangga Jaga Konsumsi
- Industri Properti – GREAT Institute Beberkan Sinyal Pelemahan Pasar Perumahan